Curigo Manjing Warangka


Malam ini dingin, hampir saja membuat saya mengurungkan niat  untuk melihat kembali perjalanan hidup yang telah terlampaui sampai detik ini di bawah sinar bulan purnama, waktu hampir menunjukkan jam 23:00 WIB. Hujan yang sepanjang sore tadi menguyur kota ini, membuat suasana begitu hening, namun tiada suara jangkrik yang ada hanya suara detak jam dinding.

Saya jadi ingat akan perkataan seseorang yang telah sepuh  beberapa waktu yang lalu, “pada waktu malam saat bulan purnama tiba, ketika hampir semua mahluk tidur terlelap inilah kekuasaan alam, cahaya bulan dan bintang-bintang memberikan kekuatan alami kepada manusia yang berada di luar rumah diudara terbuka langsung di bawah langit malam”

Gumalaring Jagad

Saya sadari kehidupan saya dari hari kehari, ingin tetap focus dalam satu tujuan hakekat hidup ini, awal suci, hidup suci dan nanti kembali dalam keadaan suci, Sangkan Paraning Dumadi. Saya sadari bahwa saya hidup dengan adanya Trimurti, elemen Api, Air dan Angin, dan kemudian menjadi satu dalam Pratiwi sehingga memberikan eksistensi pada semua mahluk hidup.

Zat fisik Api yang ada dalam tubuh, saya pahami sebagai Pramana, yang merupakan zat mutlak, zat pembentuk tulang dan otot, dan pintu dari api adalah telinga, maka apabila telinga mendengar sesuatu akan menimbulkan kehendak. Zat kedua yang mutlak adalah Air, yang dalam pemahaman saya di sebut juga Tirtamarta Kamandanu, air ini sejuk dan dingin. Zat air dalam tubuh manusia terdiri dari, Wadi, Madi, Mani, dan Maningkem. Pintu dari air adalah mata, sesuai dengan sifatnya. Elemen yang terakhir adalah Angin, pintu dari zat ini adalah hidung, angin terdiri dari Nafas, Anpas, Tanapas dan Nupus.

Jika Trimurti ini mengendap pada Pratiwi, dan tidak menjadi ‘daging’, maka akan memberikan pemunculan pada Hasta Retna (hasta=8, dan retna=warna) dari zat-zat berharga yang pernah di kenal manusia; permata, emas, perak, timah, tembaga, besi, garam dan belerang. Sehingga seringkali Hasta Retna muncul di atas permukaan tanah dan menjadi Cahaya Ginaib, sebuah cahaya yang terang memancar tetapi tidak menyilaukan. Ada lima cahaya ginaib (cahaya gaib) yang di kenal masyarakat jawa;

  • Pulung, perpaduan dari endapan permata, emas, perak dan timah, warnanya biru cerah dan hijau terang. Cahaya ini mencari orang yang selama hidupnya berlaku baik dan jujur. Bagi yang terpilih dapat ‘menolong orang lain’
  • Wahyu, perpaduan dari permata, perak dan timah, warnanya putih dan kuning terang, yang terpilih orang yang bijak, rila dan legawa.
  • Daru, perpaduan dari emas, perak dan besi, warnanya kuning pekat seperti kunyit, dan cahaya ini sebesar buah kelapa. Mencari orang yang suka menolong, dan memaafkan.
  • Teluh, perpaduan timah tembaga dan besi, berwarna merah ungu, cahaya ini mencari orang yang memiliki moral jelek, suka menggangu dan tidak bisa membedakan antara benar dan salah.
  • Guntur, peraduan antara besi, garam dan belerang, berwarna ungu terang, cahaya ini mencari orang yang haya mengikuti hawa nafsu, serakah dan tidak bisa memaafkan orang lain.

Semua zat/elemen itu membentuk manusia dalam percampuran dengan Pratiwi, sehingga terciptalah Sir, Budi, Cipta dan Rasa, semua itu handaknya di pergunakan sebaik-baiknya dalam perjalanan hidup, dan menekan sebisa mungkin;

  • Amarah, sudah pasti warnanya merah, letaknya pada empedu, dan pintunya pada telinga.
  • Aluamah yang berwarna hitam, letaknya di perut, pintunya pada bibir.
  • Supiyah, yang berwarna kuning tempatnya di limpha, pintunya pada mata.
  • Mutmainah, warnanya putih, tempatnya di tulang.

Dalam cerita Ramayana, dalam babagan “Satra Jendra” Alap-alaping dewi Sukesi, 4 hal ini melambangkan ke empat anaknya, Rahwana/Dasamuka mewakili Amarah, Kumbokarna mewakili Aluamah, Sarpakenaka adalah Supiyah dan Gunawan Wibisana, mempunyai sifat Mutmainah.

Maka seharusnya manusia hidup harus bisa mengontrol hawa nafsunya, apabila tidak maka orang itu akan terlempar dalam lembah hina. Hati, adalah salah satu tempat yang di ciptakanNya untuk mengontrol semua itu, ada 4 macam hati;

  • Hati sanubari; kekuatan rasa, pembicaraan sempurna
  • Hati maknawi: pemegang rasa, pendengaran sempurna
  • Hati siri: kesempurnaan rasa, penciuman sempurna
  • Hati puat: hilangnya rasa, pandangan sempurna

Kemudian wadag atau badan kasar manusia, dalam gumelaring jagad, terdiri adari tiga bagian, atau dalam pemahaman saya di sebut Triloka;

  • Guru Loka, tingkat teratas dari dari badan (jagad duwur), tempatnya di otak, mempunyai nama Jonggring Saloka
  • Indera Loka, tengahing jagad (jagad tengah), tempatnya di dada mempunyai nama Indera Buwana
  • Jana Loka, tingkat terbawah dari jagad (jagad ngisor), tempatnya tepat berada di alat seksual bagian bawah namanya Nguntoro

Jika di hubungkan dengan kisah ppewayangan, hal ini sama dengan Betara Guru yang mendiami Jongring Saloka, Betara Indra berada pada Indera Buwana, dan Syang Hyang Wisesa Tunggal, berada pada Nguntara.

Inilah pemahaman tentang curiga manjing warangka, dalam gumelaring jagad.

Advertisements

3 thoughts on “Curigo Manjing Warangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s