Self Potrait


 

Ada banyak dari kita yang lebih suka berada di belakang viewfinder, akan tetapi ada kalanya kita harus mencoba sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak/belum terpikirkan untuk dicoba mungkin, yaitu berada dalam frame atau yang kita kenal dengan istilah self-potrait. Terdengar narsistik, tapi serius ini sangat efektif buat membantu banyak untuk dunia yang kita cintai ini. Tentu saja ini semua bukan berbicara tentang memotret diri sendiri menggunakan ponsel dimana semua sudutnya diambil dari atas terus “chibi-chibi” monyong2in bibir, dan jari “victory”.

Dimana nilai lebihnya jika kita belajar tentang self-potrait ini? Menjiwai sebuah pose tanpa harus canggung itu mungkin yang pertama, kemudian gaya pencahayaan yang kita inginkan, kita bisa berlatih disitu, juga masalah tempat yang tidak usah keluar dari lingkungan rumah juga akan menjadi nilai tersendiri bila dibandingkan dengan parade hunting model yang berbayar. Bisa berhenti dan memulainya kapan mood kita sedang bagus, atau bahkan melatih penguasaan fotografi dalam kondisi emosi, marah, sedih, senang, bahagia dan bahkan sedih

Mungkin pada awalnya kita akan berpikir, saya ini nggak photogenic, dulu pernah nyoba tapi jelak, malu ah, dan lain-lain. Saya sangat paham akan hambatan diatas, sama seperti yang saya mulai coba dulu, kadang merasa kok jelek amat ya.

Awalnya pasti aneh dan terasa konyol, tapi saya piker setelah beberapa saat ketika sudah mencoba, akan mulai muncul rasa nyaman dan begitu ada hasil yang bagus, akan membuat kita bertambah semangat. Kala sesi pemotretan ada hasil yang jelek, kita bisa hapus saja. Tidak ada yang perlu melihatnya kecuali kita sendiri. Tapi pesan saya, sebaiknya jangan dihapus dahulu dari kamera sebelum kita melihat keseluruhan foto yang dibuat komputer. Ini berguna untuk mempelajari mana pose yang bagus, mana yang tidak. Mana pencahayaan yang berhasil, mana yang gagal, dan seterusnya.

Sekarang, bagaimana caranya memotret diri sendiri dan mendapatkan hasil yang bagus?

Ketika mengerjakan self-portrait, tentu tidak akan jauh-jauh dari peralatan yang biasanya kita pakai buat “perang”: kamera, tripod, dan timer pada camera atau jika punya shutter release/remote itu juga lebih membantu. Yang sulit mungkin tiga hal berikut ini:

  1. Mendapatkan focus yang benar.

Biasanya saya selalu menggunakan light stand, buat focusing. Kemudian lensa saya ubah menjadi manual pada AF-nya. Light stand tadi bisa kita geser dan diganti dengan selotip pada lantai, jadi ketika nanti saat menekan shutter dengan fungsi timer 10 detik, kita bisa menuju isolasi dimana disitu adalah titik fokus-nya.

  1. Mengatur frame

Sering kali ada bagian tubuh yang terpotong, atau ada props yang kita pakai out of frame. Ini juga salah satu kesulitan yang bikin mood ngedrop. Biasanya untuk background tembok, kita bisa tempelkan isolasi kemudian framing pada kamera. Namun jika kita ingin jauh dari tembok, ini yang agak susah, bisa-bisa kita berkeringat karena bolak-balik framing dan berlari menuju setting, tetep ada untuknya… anggep saja olahraga. Tips: mungkin kita bisa menggunakan posisi lensa terlebar dan memotongnya nanti saat editing/post pro.

  1. Menjaga mood

Karena tidak segera menemukan setup yang tepat, akan membuat kita merasa bosan. Kondisi ini bisa diakali dengan menggunakan cara-cara yang belum pernah kita sebelumnya, contoh: memakai props yang aneh-aneh, mencoba lighting dengan senter, sentir atau apa saja yang kita rasa unik. Ini mungkin juga bisa menjadi mood boster saat kita harus mencoba ekspresi, kita bisa mulai cengir-cengir, tertawa lepas, atau tampak garang, mellow yellow dan sebagainya.

Jika semua halangan diatas bisa kita lalui, tentu ada keuntungan yang akan bisa dapatkan. Satu, kita bisa mengatur pose, karena latihan selft-potrait ini akan mengasah kemampuan kita bagaimana membuat agar subjek kita terlihat menarik. Dua, kita akan tau “ngewongke” model kita. Mereka juga manusia bukan objek, karena kita telah merasakan bagaimana rasanya didepan moncong lensa untuk waktu yang lama. Tiga, tentu saja segitiga eksposure makin “klik” dengan kita. Empat, Tentu kreatifitas akan muncul dan photo kita menjadi mempunyai karakter. Dan yang terakhir, bisa semakin kekinian bila kita mempunyai hasil yang bagus kemudian unggah pada media social yang kita punyai.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s