Miras


Sebelumnya saya mengucapkan turut berduka cita untuk para keluarga yang ditinggalkan akibat miras oplosan yang merenggut nyawa di Yogyakarta.

Yogyakarta walaupun dikenal sebagai kota pelajar, tetap sama seperti kota-kota lainnya di Indonesia mempunyai denyut kehidupan tersendiri yang gelap, tersamar bahkan cenderung melanggar aturan, norma ataupun hukum. Kasus Cebongan beberapa waktu yang lalu salah satu bukti bahwa walaupun kota pelajar, dunia hitam itu nyata di sini. Jadi tidak usah kaget atau apapun juga, ini adalah kenyataan yang ada. Sama halnya seperti Dolly di Surabaya dulu, ataupun Kalijodo di Jakarta, di Yogya juga ada Sarkem.

Saya termasuk salah satu contoh dari sekian banyak orang tua yang berpikir bahwa menyekolahkan anak di Yogya akan terhindar dari pengaruh pergaulan yang buruk, tawuran, narkoba, ataupun kehidupan pergaulan bebas. Sayangnya perkiraan mereka sedikit meleset, walaupun tidak larut dalam pusaran dunia hitam sepenuhnya.

Kembali ke kasus miras ini, kenapa bisa terjadi dan terjadi lagi? Ini asumsi saya pribadi berdasarkan pengalaman sendiri, ‘minum’ adalah ‘next step‘ setelah merokok, dan ‘minum’ tidak seperti narkoba lainnya, yang cukup anda memegangnya saja bisa berurusan dengan para penegak hukum. ‘Minum’ adalah sebuah kondisi dalam pergaulan, saya lupa kapan gelas sloki pertama ada di hadapan saya dan itu hanya ada dua kemungkinan, take it or leave it. Take it akan berakibat terus menerus ‘minum’, leave it akan mempunyai konsekuensi anda dikucilkan, atau cari teman-teman baru. Ini bukan gagah-gagahan seperti postingan sebelum yang saya baca, gimana mau gagah klo jalan aja ga bisa(kondisi pertama kali merasakan), dan biasanya yang punya kebiasaan sok gagah gitu(baca: mabuk dikit berisik), ‘dimakan sendiri’ dalam sebuah pergaulan.

Home Industri

Tujuh belas tahun yang lalu, miras ala rumahan ini sudah ada banyak; seperti lapen, tangkur buaya, kidangan, keplokan, jamu, susu macan, juga dari luar daerah seperti ciu mbekonang dan lain-lain. Kenapa ada begitu banyak produksi miras rumahan seperti itu? Ada beberapa kemungkinan:

  1. Karena ada permintaan pasar yang besar, waktu itu harga-harga melambung tinggi akibat krismon tidak terkecuali miras ala pabrik. Seliter lapen hanya Rp 10.000,- bandingkan dengan botol pabrik hanya 350 ml yang harganya Rp 20.000,-. Dari sebab itu motifnya mungkin sama seperti hari ini, murah bisa dapet banyak tentu yang lebih dicari.
  2. Bikinnya gampang, untungnya lumayan. Saya tahu ini karena pernah menjalani sebuah kisah dengan seorang wanita yang ayahnya menjual miras ala rumahan hehehe, cuma beli etanol kadar 96% (saya nggak tahu apakah etanol ini termasuk food grade atau tidak) kemudian dicampur air masak yang sudah dikasih perasa, masukkan dalam botol kaca(botolnya seperti yang buat jualan bensin eceran) kemudian di masukkan dalam bak mandi(fungsinya untuk menghaluskan rasa, bila langsung dijual rasanya “nyegrak” beda kalo sudah direndam 2-3 hari, diminum rasanya lembut ditenggorokan).

Kemudian masalahnya apa sampai bisa timbul korban meninggal seperti kasus yang baru saja terjadi? Jujur saya tidak mengikuti asal muasalnya kasus tersebut, tapi mempunyai satu pandangan seperti ini; Bila seseorang sudah bertahun-tahun minum, dia akan pada kondisi “kebal” maksud saya, jika kondisi pertama kali minum seseorang butuh 200 ml untuk bisa dikatakan mabuk, setahun kemudian mungkin dia butuh 1000 ml untuk mencapai taraf mabuk.

Celakanya, untuk mencapai taraf mabuk ini kemudian mencampurkan zat-zat yang memang bukan untuk dikonsumsi, seperti lotion anti nyamuk, spiritus dan lain-lainnya demi menambah ‘keras’ miras tersebut. Sedangkan para korban IMHO mungkin tidak tahu apa yang sudah tercampur dalam miras tersebut, mereka pikir mungkin seperti yang sudah-sudah mereka ‘minum’ hanya meninggalkan ‘SOS’, dan kepala seperti pake konde di pagi harinya. Ini saya ambil kesimpulan sendiri berdasarkan uraian, Dokter ahli forensik RSUP Dr Sardjito dr Lipur Ryantiningtyas Budi Setyowati yang menjelaskan adanya kandungan metanol/methanol. Menurut Sebuah artikel, keracunan methanol ini salah satu problematika yang sering terjadi di belahan dunia berkembang.

Ini hanya cerita, untuk sebuah pengingat bahwa bahaya yang bisa merenggut nyawa bisa ada dimana-mana, bahkan ketika dalam sebuah kegembiraan bersama kawan-kawan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s