Mengenal cahaya buatan


 

Bermain cahaya buatan, itu yang terlintas saat tulisan ini dibuat. Susah? Tidak begitu sulit, hanya membutuhkan sedikit banyak latihan yang terus menerus, dalam belajar saya seringkali menggunakan objek yang sederhana, orang lain mungkin menganggap hanya buang-buang Shutter. Tapi jika tidak demikian dari mana kita bisa belajar. Mencuplik sebuah tagline iklan “kalo ga kotor, ga belajar.”

Mulai dari mana? Dari sumber cahaya tentu saja, sesuai judul menggunakan cahaya buatan tentu saja tidak jauh dari lampu, baik itu jenis LED, TL, Pijar, Strobe, kemudian ada Lilin, dan terakhir ada Speedlight aka Flash. Masing-masing punya fungsi, kelebihan ataupun kekurangan masing-masing, PR kita adalah mencari tau karakter cahaya pada cahaya buatan ini, baik itu Quantity of light, Quality of light, arah serta warna, agar bisa cocok dengan tema yang akan kita pakai dalam menciptakan sebuah karya. Masing-masing karakter itu bisa dibaca pada tulisan sebelumnya, disini.

Foto diatas ini bisa sebagai contoh yang amat simpel, cahaya yang seperti apa yang dicari apakah sudah sesuai dengan konsep kita. Foto ini sama-sama menggunakan satu sumber cahaya, namun berbeda dalam arah cahayanya, dan hasilnya bisa menekankan hal yang berbeda bukan?

Terus gimana mulainya, masih bingung mau bikin apa, latihan yang kayak gimana? Tidak perlu bingung, kita bisa mulai dari apa yang ada di dalam rumah, tidak perlu jauh-jauh pergi.

Pertama yang perlu kita lakukan adalah cari obyeknya dulu, kemudian kita bikin storyboardnya, letakkan objek, tata cahayanya, jepret selesai, ulangi bila perlu.

Contoh: Saya pengen mengambil gambar mobil-mobilan, pertama saya bikin coretan/sketsanya dulu

Kemudian, kita tata cahayanya seperti konsep, dalam hal ini saya menggunakan dua jenis lampu, TL(tornado 5 watt) dan bohlam susu, 25 watt, tidak lupa dibantu dengan diffuser sederhana, kertas HVS 80 gram untuk menyaring sinar agak tidak keras(Quality of light).

Hasil akhirnya, seperti foto dibawah ini.

Simpel bukan? Kemudahan menggunakan lampu jenis continues ini adalah apa yang kita lihat di jendela bidik, itulah yang akan kita dapatkan pada hasil jepretan atau biasa dikenal dengan istilah WYSIWYG (what you see is what you get).

Kemudian kita lanjut dengan menggunakan cahaya buatan jenis speedlight/Flash, walau tidak semudah continues dalam penerapannya, menggunakan speedlight mempunyai keunggulan seperti power cahaya yang bisa disetel, serta bisa membekukan objek yang bergerak. Tidak mudah disini berarti kita akan lebih boros shutter count, sebab cahaya yang dihasilkan kita tidak bisa melihatnya. Baru saat tombol shutter ditekan, hasilnya baru keliatan.

Contoh:

Setup lighting-nya.

Disini, saya menggunakan dua buah flash. kiri dalam strip box DIY, sedangkan kanan bare flash, cahayanya kemudian dipantulkan ke box putih ada didepannya fungsinya saya gunakan sebagai reflector mini.

Bagaimana bila menggunakan dua-duanya, baik continues ataupun strobe?

Pada foto ini, kiri saya menggunakan lampu senter LED , dan kanan saya menggunakan flash dengan light modifier, honeycomb DIY dari sedotan warna oranye.

Hanya Still Image?

Perjalanan kita masih jauh, cahaya buatan dapat digunakan dalam semua lini genre fotografi. Salah satu contoh yang telah di posting di sini

Saya menggunakan satu buah flash, dengan light modifier-nya payung silver reflector yang dibuka separuh, posisi 45 derajat diatas saya.

Simpel bukan, selanjutnya schema lighting untuk postingan Self Potrait.

Keep Jepret.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s