Karya Visual dan Kode Etiknya


Jika berkesempatan berada di Yogyakarta, dan kebetulan berjalan menuju timur dari perempatan Gondomanan, maka dari kejauhan akanterlihat baliho ini berdiri setelah jembatan Sayidan.

Kepikiran sebaris kalimat itu hingga melamun dan tidak sadar lampu merah sudah menyala hijau, because visual speaks loader! Coba kembali mengingat di mana kalimat itu pernah saya baca, penasaran ini jadi tingkat dewa. Setelah menyerah dan kemudian ‘googling‘, ternyata saya pernah membacanya dalam buku marketing kepunyaan kawan satu kontrakan dulu, Visual Hammer.

Dalam buku itu ada sebuah perbandingan tentang visual dan kata, di mana karya visual akan ditangkap otak kanan setelah terlihat oleh indera penglihatan, dan kata yang juga ditangkap otak kanan, namun langkah selanjutnya adalah mengirimkannya pada otak kiri untuk diberi makna kata tersebut. Jadi karya visual melewati satu langkah, dan kata memiliki dua langkah untuk dapat sama-sama diterjemahkan dan memiliki makna

Untuk membuktikan apakah teori dalam buku Visual Hammer tersebut benar,  saya mempunyai dua gambar dengan format .gif, satu murni karya visual tanpa teks, dan satu lagi teks murni tanpa karya visual. Kedua gambar ini memiliki interval 1 detik, sebelum hanya hitam 4 detik muncul. Lebih cepat yang manakah kita memaknainya?

Jika kita mudah memahami yang pertama, berarti pendapat dalam buku tersebut benar adanya.

****
Foto merupakan salah satu karya visual yang paling populer hari ini, selain gambar bergerak dan suara tentunya. Ponsel berkamera, kamera saku ataupun DSLR sudah sangat mudah didapatkan, harganya pun bervariasi kita dapat memilihnya sesuai dengan anggaran yang kita punya. Penggunaanya mudah cukup arahkan, dan jepret selesai, maka akan ada hasilnya seketika itu juga. Selanjutnya akan berlanjut pada jejaring sosial yang kita pakai, unggah, beri keterangan. Selanjutnya menunggu komen, dan like.

Tentu amat menyenangkan mendapat like, dan komentar-komentar yang sangat menyanjung, amat membanggakan jua bila kita mendapat frame atau penghargaan tertinggi dari group yang kita ikuti. Akan tetapi, di luar itu semua, apakah kita sungguh meletakkan hati pada setiap foto sebagai maha karya dari kamera yang kita cintai?

Saya ingat sebuah pengalaman tujuh belas tahun silam, saat harus mengumpulkan tugas “candid“, tercetak 10R tentang anak jalanan di emperan Malioboro yang masih terlelap saat pertokoan belum buka, foto itu saya ambil pagi sekitar jam 7 pagi. Saya puas dari segi eksposure, kepekatan tonal BW yang indah, terbayang poin A tentu akan saya dapatkan. Hasilnya di luar dugaan, saya memang di panggil maju, bukan sebagai pemenang tapi sebagai pencundang. Foto saya di katakan foto yang bermutu rendah, paling rendah dari foto-foto teman-teman lain yang secara kualitas di bawah saya waktu itu.

     “Jangan pernah mengarahkan lensa kamu pada anak-anak baik yang berumah maupun yang berada di jalanan, tuna wisma, orang sakit, tragedi kemanusiaan, kecelakaan yang kamu temui di jalan. Enyahkan mereka semua dari konsep foto kamu!”

Hanya itu penjelasan dari dosen saya, kata-kata bukan hanya untuk saya, tetapi seluruh kelas waktu itu. Jawaban atas pernyataan dosen saya waktu itu saya temukan ketika mengikuti diklat jurnalistik bagi pewarta visual, ternyata ada azaz mutlak dan manfaat yang menaungi setiap karya yang dihasilkan. Azaz mutlak, apakah masyarakat wajib tahu akan sesuatu dari karya yang kita hasilkan, dan azaz manfaat, apakah foto kita dapat membuat sesuatu yang bernilai positif bagi siapapun yang melihat karya kita, kemudian ada nilai-nilai kepantasan, ada kode etik:

  1. Apakah saya menghargai hak setiap objek/subjek yang masuk dalam frame saya untuk menolak atau menerima,
  2. Apakah saya dengan mengambil subjek/objek tidak akan menyakiti, membahayakan kehadiran mereka, melecehkan, serta membuat rendah hak-haknya sebagai manusia,
  3. Apa yang saya dapatkan dari foto yang saya ambil. Keuntungan finansial? Atau untuk mempromosikan tujuan-tujuan yang baik,
  4. Apakah saya menggunakan foto dalam konteks yang cukup mewakili situasi nyata, identitas subjek, atau lokasi fisik secara jujur dan tidak membangun opini,
  5. Adilkah kita akan subjek dan objek yang ada dalam foto kita.

Dari sanalah sampai saat ini saya mencoba tidak pernah melanggar etik dan tidak akan pernah tertarik melanggarnya. Seperti foto saya di bawah ini, saat kejadian bom di Kedubes Australia. Hanya dua foto ini yang paling ‘sopan’ tanpa memuat objek/subjek korban-korban, dan sisanya hanya tersimpan rapi dalam HDD saya, tidak akan pernah di unggah tayangkan dalam dunia tanpa batas bernama internet.

Ucapan dosen saya itu sekali lagi terbukti, satu tahun yang lalu seorang putri bangsawan dari Jerman yang juga style editor majalah Vogue harus berhadapan dengan publik yang tidak terima akan sebuah foto yang diunggahnya dengan caption, ‘Paris is full of surprises….and @voguemagazine readers even in unexpected corners!’

Bila anda mengira tidak ada yang salah dengan foto ini, tidak demikian dengan mereka yang mengecam, cruel, tasteless, poor taste,dan ujung dari pengunggahan foto ini berakhir dengan pemecatan sang putri bangsawan tersebut.

Etik di luar sana sangat dijunjung tinggi, bagaimana dengan kita yang berada di sini?

Mungkin masih bangga disanjung sebagai ‘dewa’, karena berhasil memotret di jalanan seorang tua yang meminta-minta, detil kulit keriputnyanya begitu jelas terlihat.

Jika visual bisa berbicara lebih lantang, kenapa kita tidak mencoba hanya membuatnya indah.

 

Salam Jepret,
Sumber vogue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s