Stabil ambil Video


Sudah tidak bisa dipungkiri kepopuleran video sebagai konten sudah mampu bersaing dengan teks, hari ini dengan tarif internet murah dan kecepatan yang membaik turut andil dalam menaikkan tingkat popularitas video sebagai konten.

Menyenangkan memang, saya pun bisa menghabiskan waktu berjam-jam di warnet untuk mengunduh ataupun rela menghabiskan kuota bulanan hanya demi konten video yang saya cari, vlog tentang tutorial atau behind the scene. Orang-orang seperti Aaron Nace, Joey L, B Von Wong, Jay P. Morgan, Dave Hill, dan Calvin Holywood adalah nama-nama wajib saya lihat vlognya.

Video sebagai konten tentu harus memenuhi beberapa aspek jika ingin menarik dan kemudian berkembang viral. Ada Konsep, kemudian ada teknis, ada post pro, sebelum kemudian bisa diunggah tayangkanKonsep tentu jelas, topik/tema apa yang ingin kita ambil. Teknis akan berbicara tentang alat, para pendukung dan penggunaannya dalam kegiatan merekam, proses pengejawantahan konsep kita. Terakhir sebelum tayang, ada proses post pro,sebuah kegiatan untuk mengurangi, menghilangkan yang menggangu, memperindah, menambah semarak footage yang telah kita rekam sebelumnya, dengan kata lagi diedit.

Dalam sebuah video yang kemudian wajib diedit salah satunya adalah gerakan, gerakan yang disengaja maupun tidak disengaja.

Gerakan disengaja yang bisa dianggap mengganggu yang biasanya membuat pusing bagi siapa saja yang menonton adalah, pan (gerakan pada kamera/camcorder dari kiri ke kanan atau sebaliknya dengan tubuh/tripod/monopod sebagai sumbu). Seringkali tidak disadari, video terekam dengan pan kiri ke kanan, kemudian diulang lagi pan kanan ke kiri berulang-ulang dengan durasi yang singkat, ini amat memusingkan bagi siapa saja yang menonton, sama seperti setrikaan. Demikian pula dengan tilt (gerakan pada kamera, keatas ataupun kebawah, dengan tubuh/tripod/monopod sebagai sumbu) gerakan merekan keatas-kebawah berulang-ulang juga membuat tidak nyaman. Zoom (pergerakan pada lensa), seringkali tanpa sadar kita memainkan zoom ini secara berlebihan, zoom in blom selesai, sudah zoom out, kemudian zoom in kembali, mirip kalo kita maju mundur.

Gerakan tidak disengaja, dengan berbagai kondisi di lapangan tentu kita seringkali lebih nyaman memegang kamera secara handheld daripada menggunakan sebuah tripod/monopod. Kondisi dipegang dengan kedua tangan inilah terjadi gerakan tidak disengaja, sehingga hasil menjadi shake atau bergoyang-goyang, kondisi inilah yang kemudian membuat banyak produsen perlengkapan video membuat sebuah alat penunjang untuk meredam atau meminimalisir shake,karena dianggap salah satu perlengkapan pendukung yang vital, harganya kadang kali bisa lebih mahal dari harga kamera/camcorder yang kita miliki.

Stabilizer ala Adobe Premire

Jika kita terlanjur memiliki footage yang penuh ‘doyang dombret’ ini, ada satu cara mengakalinya dengan bantuan pengolah video besutan Adobe, yaitu premiere. Sejak Adobe Premiere CS 4 fitur ini mulai disematkan, namanya wrap stabilizer.

Letakan footage yang kita ingin edit pada timeline, kemudian klik effect, Video Effect, Distort, Warp Stabilizer. Sesuaikan parameter yang ada dengan kebutuhan kita

Mudahkan? Jadi footage yang kita miliki tidak lagi “goyang dombret”

Ini hasilnya editnya serasa menggunakan steadycam, sekaligus buat test apakah K, sudah bisa embed video.Tentang belajar fotografi ala kelelawar. Jika belum bisa ditampilkan, ini linknya

Salam Jepret

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s