Dual Camera Era


Peluncuran flagship terbaru Huawei cukup menghebohkan, tidak tanggung-tanggung Huawei berani menggandeng Leitz Camera sebagai pembuat lensa pada P9.

Walau belakangan mulai terbuka, Sunny Optical-lah yang membuat lensa untuk P9 tersebut berdasarkan klarifikasi Huawei. Sunny Optical sebenarnya bukan pemain baru, sudah banyak modul lensa yang mereka ciptakan (beberapa modul kamera buatan Sunny Optical). Dalam industri mereka disebut OEM (Original Equipment Manufacturer), pabrik pembuat spare part yang dianggap asli milik pabrikan lain dengan ijin khusus.

Itu baru lensa, kalo semua pabrikan handphone mau jujur, sensor yang mereka gunakan selama yang saya tau hanya ada dua Sony dan Toshiba, Sony dengan keluarga Exmor/R/RS mereka (list camera phone sensor sony exmor), dan Toshiba dengan BSI dan PDAF sensor.

Makanya agak heran jikalau melihat pada medsos, ada yang sampe berantem gara-gara mengklaim kamera ponsel mereka lebih baik dari lainnya. Apakah saya sok tau, jika penasaran dengan sensor camera pada smartphone kita, bisa menggunakan aplikasi AIDA 64, setelah mengunduh dan di gunakan, bisa dilihat pada bagian device.

Kembali kemasalah OEM, sebenarnya bukan hanya Leitz Camera saja, pabrikan Jerman lainya yang juga terkenal dengan lensanya seperti Carl Zeiss dan Voigtländer, dibikin oleh perusahaan Jepan Cosina. Bahkan saya punya lensa besutan Carl Zeiss dalam kamera saku murah saya. Hehehe, apakah asli CZ pabrik, entahlah. Sedangkan ini penampakan lensa CZ yang asli, dengan body chrome

Dual Camera

Kembali kepada flagship Huawei terbaru P9 disana terbenam dua camera belakang sebenarnya bukan barang yang baru, HTC pada tahun 2011 telah memperkenalkan konsep dua camera belakang pada ponsel mereka yaitu, HTC Evo 3D.

Konsep 3D sepertinya tidak berjalan seperti yang diharapkan, mungkin karena mereka melupakan suatu faktor penting dalam menggunakan 2 optical secara bersamaan, yaitu parallax error. Kesalahan hasil gambar karena saling overlaping ini dikenal ketika twin-lens reflex camera (TLR) ditemukan.

Sebagai gambaran bagaimana parallax error ini, letakkan jari di depan muka kita, tanpa mengubah posisi jari, kepala kita gerakan ke kiri dan ke kanan, lihatlah jari dengan posisi kepala menghadap kanan dan kiri apakah berubah terhadap latar belakang, sekarang bayangkan ketika kepala menghadap ke kanan dan ketika kepala ke kiri kemudian terekam dalam satu jepretan, hasil foto tangan akan saling overlap. Jadi sangat beda dengan konsep 3D yang kita ketahui sekarang. Seperti 3D effect yang biasa kita lihat di layar bioskop.

Ataupun effect 3D seperti yang sedang tren saat ini, dapat dilihat pada Card Board pada smartphone kita. Seperti penjelasan pada laman situs Huawei, penyematan dua kamera belakang bukan untuk membuat efek 3D, tetapi lebih pada membuat foto yang lebih maksimal hasilnya, tetap tajam dan terang dalam kondisi low light, dynamic range yang lebih luas serta lebih rendah noise. Beginilah prinsip kerja modul dual kamera pada P9, kamera satu akan mengambil gambar seperti biasa, ada Bayer filter mosaic, ini merupakan filter warna, di mana cahaya yang masuk melalui lensa di kelompokan dalam warna Red, Green, Blue(RGB), kondisi ini menyerap cahaya hingga 2/3nya.

Sementara kamera kedua tidak menggunakan bayer filter, berarti sensor foto adalah monochrome, hanya menangkap cahaya dan menterjemahkan dalam hitam dan putih. Karena hanya monokrom, sensor ini lebih peka 300 persen dari kamera saudara disampingnya. Selanjutnya SOOC Kirin-lah yang bekerja mengolah algoritmanya.

Keuntungannya sangat jelas seperti yang sudah disebutkan diatas, kita bisa mendapatkan hasil yang bersih pada kondisi kurang cahaya, dan terbebas dari noise. Penggabungan dua foto ini mirip pada konsep pureview, bedanya pada pureview menggunakan layer algoritma.

Jika kita terbiasa mengedit pada media rekam baik bergerak ataupun gambar diam. Pemaksimalan hasil akhir dengan menambahkan adjustment layer Level juga sama dengan logika yang dipakai pada konsep dual camera ini. Foto yang underexposure bisa tertolong dengan adjustment layer LEVEL, tanpa membuat noise.

Akhir kata era dual camera telah tiba, kedepannya akan banyak sekali ponsel pintar yang menggunakannya, entah itu untuk mengeliminasi noise, hasil yang maksimal pada cahaya minim, memperluas dynamic range atau dual camera modul untuk menyimpan depth mapping data, sehingga hasil akhir kita bisa memilih focus setelah gambar diambil seperti konsep kamera lytro, atau konsep yang baru lainnya, kita tunggu saja.

Namun kesemuanya itu diciptakan hanya untuk menjaga agar ponsel tetap bisa tipis, tanpa memperbesar penampang sensor, yang berarti menambah rumit dan besar susunan elemen lensa. Ketika teknologi tentang prosesor, display, RAM, serta OS agak melambat, inovasi terbaru dari kamera lah penyelamat market share mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s