Belajar Fotografi


 

Liburan sekolah hampir usai, sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan saya sudah kembali ke kota masing-masing, saatnya melepas penat dan stres setelah hampir tiga minggu menjadi tour guide dan ‘baby sitter’. Group WA trah mbah buyut ramai kembali dengan notif saling share cerita dan dokumentasi. Walaupun keluarga besar tunggal mbah buyut, kami sangat akrab satu sama lainnya yang beda simbah karena dari kecil terbiasa, “mangan ora mangan sing penting kumpul“, jadi punya duit atau enggak kalau libur ya pada kumpul. Untungnya rata-rata tinggal di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, jadi biaya ga begitu besar untuk bisa berkumpul saat liburan tiba, hanya satu keluarga yang berada di Riau.

Dari sekian ratus percakapan di group ada yang menarik bagi saya, saat salah satu sepupu jauh yang baru mau masuk SMA komen;

“Tulung-tulung, kok foto-fotonya jelek semua? Banyak yang goyang, belakang kabur, ama ini foto banyak yang kadang gelap kadang terang banget gambarnya. Bagusan galnot aku ya.”

Sepupu ini baru saja dibelikan DSLR ayahnya sebagai hadiah, karena lulus dengan hasil memuaskan dan sepertinya kali pertama pegang DSLR. Saya cuma jawab, “kirim aja fotonya di grup apa email, nanti kita lihat bareng-bareng“, dan memang hasilnya seperti yang dikeluhkan.

Dari hasil itu saya cuma ingin menuliskan sesuatu untuk sepupu, tentang bagaimana kita memulai sebuah petualangan yang seru bersama sekotak alat bernama DLSR

Mulai dari Mana?

Read the Fu***** Manual

Buku kecil yang disertakan dalam kotak saat pembelian itu amat sangat penting, dari sana kita bisa tahu tentang alat yang baru saja kita miliki, tentang fungsi, tentang kemampuan, tentang semuanya. Saran mas, dek bacalah buku itu terlebih dahulu sampai habis sebelum melepas kamera kita dari bungkusnya.

Setelah selesai membaca, kemudian baru kita bisa mencoba satu demi satu tombol-tombol yang ada. Jika sudah lancar mengoperasikannya, mas punya satu saran dari ‘eyang master’ mas dulu, untuk kita bisa melangkah lebih jauh dan memulai mengambil gambar. Jangan tanya mas, coba simpan gambar dibawah ini kelak kemudian hari akan mengerti apa ini, dan maknanya.

Ini mantera pertama

Mas, dulu juga bingung ini apa, dan apa artinya. Jaman mas belajar ini, ga ada tempat bertanya, jangankan grup apa forum, internet aja masih belum ada, nanya temen main juga tidak paham, satu-satunya jalan cuma beli majalah fotografi bekas. Kalo beli yang baru sayang dek, mending buat beli ro***.

Selanjutnya, masih kata ‘eyang master’ ada tiga hal yang akan bersinggungan secara langsung dalam fotografi, namanya exposure triangle atau segitiga eksposur, terdiri atas ISO, shutter speed, dan aperture.

ini ISO,

Ini Shutter speed

dan ini ApertureMas punya satu puisi tentang exposure triangle ini, tapi jangan diketawain ya kalo ‘wagu’.

Bikin puisi dulu

Setelah segitiga eksposur ini, selanjutnya adalah pemahaman tentang temperatur warna. Bisa baca lagi buku manualnya bagaimana memilih dan mengaktifkannya.

Ini temperatur warna

Selanjutnya, kita beralih ke ‘tanpa warna’, foto yang kita hasilkan akan menjadi monochrome atau kebanyakan orang bilang hitam putih. Tanpa menggunakan apikasi manipulasi gambar sebenarnya kamera kita sudah menyediakan filter warna untuk membuat foto ‘hitam putih’ kita semakin menarik. Jaman dulu, filter warna ini berada diujung lensa.

Filter warna dalam monochrome mode

Jadi kita tinggal lihat pada tabel diatas, jika ingin menambah hitam atau membuat putih semakin nyata.

Contoh penerapan filter warna

Contoh seperti diatas ini, pada penggunaan filter merah pada foto payung merah dan langit biru, warna merah akan berubah menjadi putih, kebalikannya warna biru akan menjadi gelap/hitam. Kemudian bila kita memakai filter biru, payung merah akan berubah menjadi gelap, sedangkan warna langit akan menjadi terang/putih.

Sekarang kita kembali sedikit ke fungsi kamera, ini tentang Light Meter, pastikan indikatornya pas berada pada garis dibawah angka nol, untuk bisa memperoleh pencahayaan yang tepat.

Light meter pada Viewfinter

Light Meter pada LCD belakang kamera C

Kemudian pilihlah AF (auto focus) point yang berada pada tengah, karena pada titik inilah paling akurat, dibandingkan dengan titik-titik af yang lainnya, akan lebih mudah mengunci fokusnya. Selanjutnya kita tinggal recomposing, atau menata kembali objek sesuai dengan komposisi.

AF point selection

Bila kita bicara LCD pada DSLR, jangan pernah dijadikan patokan untuk; ketajaman foto, melihat warna, dan gelap terang foto. LCD pada kamera memiliki banyak kekurangan, untuk bisa melihat hasil maksimal yang paling tepat adalah tether dengan laptop yang sudah dikalibrasi, namun Jika terpaksa tidak ada, untuk melihat fokus atau tidaknya subjek/objek kita bisa melihat dengan zoom in pada hasil foto posisi 100%, geser kiri-kanan kemudian. Sedangkan untuk gelap-terang dan warna, sebaiknya kita berlatih untuk membaca histogram. Histogram akan jauh lebih akurat dari apa yang terlihat pada LCD.

Sudah, kira-kira itu semua yang penting buat kita siap mengambil gambar selanjutnya kita siap hunting. 

Pegang yang kuat

Memegang juga mempunyai peranan penting buat foto menjadi tajam, tidak goyang. Butuh latihan yang banyak untuk bisa tahu seberapa rendah shutter speed yang bisa kita gunakan bila handheld. Buat amannya, minimal SS (Shutter speed) terendah yang kita bisa pakai adalah, satu kali dari panjang fokal terpanjang lensa kita, contoh bila kita menggunakan lensa zoom 18-55mm, pastikan SSnya minimal pada 1/60 detik, bila kita menggunakan 10-300, pastikan ss minimalnya 1/400. Cara diatas juga bisa meredam gerakan, dengan menyentuhkan/menumpukan kedua sikut pada dada/perut.

Mari kita hunting

Shot Sizes

Bila objek foto kita kemudian memasukkan unsur manusia, diatas ini adalah pakem untuk memasukkan manusia kedalam frame. Pertama adalah ELS (Extreme Long Shot), dibanyak tempat seperti pada cinematography, news gathering, ataupun photo essay juga dikenal sebagai establishing shot.  Kemudian ada VLS (very long shot) subjek manusia utuh, besarnya 1/3 dari frame. Ketiga ada FS (full shot)/LS (long shot)pengambilan gambarnya memasukkan secara utuh manusia dari kaki hingga head room (ruang kosong diatas kepala). Keempat, MLS(medium long shot) juga dikenal dengan istilah three-quarters shot, disini gambar mulai terpotong diatas lutut hingga head room. Kelima, MS(medium shot), atau dikenal juga dengan istilah waist shot cirinya adalah mulai dari pinggul keatas hingga head room. Keenam, MCU (medium close up), cirinya, pengambilan gambar mulai dari dada hingga head room. Ketujuhpada beberapa tempat CS (close shot) dan CU (close up) adalah sama, namun sesuai ‘eyang master’  ada sedikit perbedaaan pada CS mulai dari leher hingga head room, sedangkan pada CU mulai dari leher hingga dahi. Kedelapan, BCU (big close up) pengambilan gambar mulai dari dagu hingga dahi. Kesembilan, ECU (extreme close up), pengambilan gambar hanya pada bagian tubuh tertentu saja, seperti mata contohnya.

Jadi pemotongan tubuh ada aturannya kita tidak bisa memotong secara asal-asalan.

Anjuran memotong, hijau disarankan, merah sebaiknya dihindari.

Hunting sendiri tentu tidak enak, maka dari itu bisa kita masuk di group/forum fotografi untuk cari teman. Tapi hati-hati bila masuk grup/forum, seringkali kita jadi rancu antara ilmu dan pengalaman. Pengalaman bisa salah, dan ilmu adalah pencerahan.

Hunting bersama

grup katang bikin kita lupa neken shutter.

Dan agar kita tidak tersesat dek, boleh cari ‘eyang guru’, yang mau mengajarkan kita kemampuan beliau.

Untitled-3

Tinggal kita mengasah apa yang telah diberikan suhu kita nanti dek, jangan pernah keluar rumah tanpa ini. Dijamin kita akan kecewa akan hasil pencarian kita diluar sana.

IMG_0158

Selamat memulai dunia barumu, dek. Oh ya tulisan ini jangan percaya 100%, bisa aja mas bohong semata. Cari tahu dengan jarimu ya, have fun…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s