Google Pixel, Kamera Phone Terbaik


 

Sembilan hari yang lalu, Google mengumumkan Smartphone mereka sendiri, Pixel, dan Pixel XL. Sendiri disini bermakna mulai dari desain bentuk dan arsitektur jeroannya mereka yang mendesain, walaupun pembuatannya diserahkan pada HTC.

Ada yang menarik disini, bertambah satu lagi produk saat diluncurkan menggunakan tagline yang berhubungan dengan kamera. Sama seperti peluncuran Iphone kemarin yang menggunakan tagline “An entirely new camera enters the picture“, kali ini Google Pixel menggunakan tagline, “The highest rated smartphone camera. Ever.” Klaim ini didasari oleh penilaian pada DXOMARK yang mencapai nilai 89, pencapaian tertinggi selama perusahaan yang berbasis di Perancis ini melakukan uji kualitas gambar pada smartphones.Rating Google Pixel | Sumber: dxomark.com

Mari kita lihat apa saja fitur kamera yang tertera pada lamannya.

Pixel HDR+

Pada keterangan foto terlihat kemampuan aplikasi Google Camera selama ini dibenamkan ke dalam Pixel, seperti HDR, photosphere, change focus editable, juga panorama ala fisheye, juga ditambahkan smartburst, fitur yang difungsikan mengambil banyak gambar dalam satu detik, kemudian algoritmanya memutuskan satu yang terbaik, kemudian pada keterangan tulisan ada 12.3MP dan f/2.0, dan pixel size 1.5 µm, kemudian pada saat peluncurannya dijelaskan menggunakan EIS tidak ada OIS.

Tidak ada Ois, tidak dual rear camera, hanya 12 MP dan aperture hanya f/2.0, terlihat seperti smartphone kelas dua bukan layaknya flagship. Terus apa keunggulannya hingga diganjar rating tertinggi dalam benchmark DXO?

Menurut pengamatan saya yang pertama adalah pixel size yang berukuran 1.5 micron, dalam bahasa yang digunakan HTC adalah ultrapixel. Semakin besar dimensi satu pixel, berarti semakin banyak cahaya yang bisa ditampung, hal ini menyebabkan sensor bisa bekerja baik dalam kondisi sedikit cahaya. Modul camera G Pixel diketahui menggunakan keluarga Exmor besutan Sony, IMX 378.

Pixel size

Kedua adalah Google berhasil menyempurnakan hubungan antara ISP(Image Sensor Processing) dan Hexagonal DSP(Digital Signal Processing) yang ada dalam SOC(System on Chip)nya Qualcomm, salah satu caranyanya dengan Halide.

SOC qualcomm

Halide adalah bahasa pemograman yang di godok oleh para peniliti dari divisi CSAIL(Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory) Universitas MIT, di Amerika. Beberapa nama yang kemudian ikut dalam pengembangan ini adalah perusahaan Adobe yang mempunyai perangkat lunak yang dijuluki ibu dari semua pengolah gambar, Photoshop. Hasilnya sudah jelas bukan, Halide adalah ‘sesuatu’ yang sangat powerfull dalam memaksimalkan hasil akhir dari foto yang diambil. Begitu cahaya menyentuh sensor, saat itu juga signal yang diteruskan oleh sensor dibagi dalam bagian-bagian kecil, masing-masing bagian ini kemudian menyempurnakan satu tugas seperti;  correct exposure, remove noise, sharpening, correct WB dan color cast. Jadi ada banyak proses yang bisa diselesaikan dalam satu satuan waktu, hingga hasil akhir yang memuaskan bisa tercapai.

Inilah kenapa Pixel sangat baik dalam benchmark, dari semua lini yang diuji.

Nilai dari Pixel | sumber: dxomark.com

Ketiga, ini dia pertanyaan yang sulit dijawab, mana yang lebih powerfull meredam getaran, EIS(electonic image stabilizer) atau sering juga dikenal sebagai DIS(digital image stabilizer) atau OIS(optical image stabilizer). Sebelum Google Pixel lahir, Eis ini ada dalam lini kedua dari jajaran seri suatu smartphone, sedangkan pada flagship, atau seri tertinggi tersemat OIS.

Pada OIS saya sudah jelaskan sedikit disini, mari kita lihat bagaimana EIS bekerja.

Pada footage di atas ini adalah mirip dengan cara kerja EIS, setelah signal data masuk dalam video processing, maka processor yang bertugas akan menganalisa frame per frame kemudian membandingkannya, istilah lainnya adalah tracking frame. Kemudian jika didapatkan perpindahan yang ekstrem antara satu frame ke frame yang lainnya, maka berdasarkan algoritma yang ada maka  akan diambil keputusan bahwa itu merupakan getaran/gerakan yang tidak diinginkan. Yang terjadi selanjutnya adalah footage akan dibesarkan secara digital, untuk menghilangkan kesan shake. Ini kelemahan utama dari sistem EIS, pixel dipaksa mekar kemudian di potong(croping), tentu saja resolusi akan berubah, dan otomatis akan mengurangi detil. Tapi untungnya ini merupakan gambar bergerak, dan kamera Pixel mampu mengambil gambar hinga 2K video resolusion, kecil kemungkinan bahwa loss detail akan terlihat mata secara sekilas, kecuali kita termasuk golongan pixel peeping. 

Satu contoh lagi bagaimana jika pengambilan gambar jika steady itu enak dilihat, footage diambil diatas sampan bermotor, yang tidak mungkin tidak goyang, dan pengambilan footage juga secara handheld.

Kesimpulan pribadi, mungkin Google memang ingin mendorong pertumbuhan konten video demi era big data. Atau ada yang lainnya……

Referensi: 

https://madeby.google.com/phone/

https://www.dxomark.com/Mobiles/Pixel-smartphone-camera-review-At-the-top

https://support.google.com/googlecamera/?hl=en

http://news.mit.edu/2012/better-programming-language-for-image-processing-0802

Contoh foto dari Google Pixel bisa dilihat disini


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s