Belajar Fotografi


 

Jalan arteri ini istilah saya semata yang saya tulis pada postingan sebelumnya, merujuk jalan yang kita pilih saat menyelami dunia ini sendirian tanpa ada bimbingan dari orang yang lebih dulu kenal, dan menguasai. Mungkinkah?

Alkisah ada seorang dari kerajaan Nisada yang hendak mencari seorang guru, pilihannya jatuh kepada begawan Durna yang dinilainya sangat piawai dalam memanah, namun ketika niatnya diutarakan sang begawan menolaknya. Beliau sudah bersumpah hanya mengajarkan ilmu kepada para kesatria Kuru, Pandawa dan Kurawa, tidak menjadikan penolakan tersebut sebagai halangan unutk belajar, Bambang Ekalaya nama pemuda itupun pulang kemudian mencari sebuah gua untuk berlatih, patung begawan Durna dibuatnya guna menambah semangatnya berlatih. Singkat cerita, jika waktu itu tidak dibantu sang begawan yang melakukan hal yang licik meminta satu jari yang tersemat cincin mustika ampal dari Bambang Ekalaya, mustahil Arjuna murid kesayangan sang begawan ini tidak akan pernah menang melawan Bambang Ekalaya. Kisah selengkapnya dari perseteruan dua maestro memanah ini bisa dicari dengan mengetikkan lakon cerita Palguna Palgunadi.

Kembali ke sini, semangat Palgunadi atau Bambang Ekalaya inilah yang bisa menginspirasi kita, walau tanpa ‘guru’ kita bisa berlatih sendiri, semangatnya yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri walaupun hanya berlatih sendiri”Senadyan aku madep patung, atiku mantep ngadep Guru”, (walaupun saya hanya menghadap pada patung, tapi hati saya mantep seperti halnya saya berhadapan dengan sosok guru yang asli). Walaupun kita hanya menatap layar komputer, kita bisa mencarinya dalam wejangan guru segala tahu, Google.

Setelah kita memiliki, apapun jenis dan mereknya ada satu hal yang harus dikerjakan, memahami cara mengoperasikannya. Pastikan kita sudah paham betul fungsi dan cara kerjanya melalui buku manual, baik yang disertakan pada paket pembelian ataupun kita bisa mengunduhkan dari laman produsen kamera. Sebenarnya tidak tepat pula bila kita wajib memiliki, karena hari ini banyak sekali usaha penyewaan kamera yang bisa kita manfaatkan untuk belajar, hanya saja pastikan kita memiliki cukup memenuhi syarat-syarat yang ditentukan bila ingin menyewanya.

Kakek dan cucu, SLR dan DSLR Canon

Kakek buyut dan cucu, rangefinder dan DSLR Nikon

Selanjutnya kita harus mencari sesuatu untuk kita pelajari, kali ini kita percayakan pada mbah segala tahu; Google. Sebagai informasi, laman tentang fotografi yang selalu saya kunjungi adalah petapixel, dan fstopper dari kedua laman ini banyak sekali info yang bisa kita dapatkan setiap harinya, pastikan kedua laman ini ada dalam bookmark kita. Bila kita mempunyai FB, mengikuti sebuah grup tentang fotografi juga bisa memberi banyak manfaat, ada satu grup yang saya ikuti yang hasil unggahannya selalu membuat saya berdecak kagum, professional photographers, hanya saja jika kita sudah join, pastikan tidak ada anak kecil di sekeliling kita saat kita menjelajah karena sering kali explicit content, atau NSFW(not save for work) berada disana, seperti genre bordoir. Bisa juga kita memanfaatkan perpustakaan digital seperti IJakarta untuk meminjam soft copy buku fotografi.

Sangat mudah bukan cara kita menambah pengetahuan tentang foto, beda dengan puluhan tahun silam dimana kita harus mengeluarkan uang dulu untuk membeli buku, majalah ataupun tabloid tentang fotografi, ini cara saya dulu untuk belajar

Kliping dari tahun 99

Jika sudah bertambah pengetahuan kita, dan kita sudah memilih satu genre untuk dijatuhi cinta, selanjutnya kita akan selalu bertemu dengan kata bijak ini, emphasis.
Ada tiga mazab dalam fotografi (ala saya pribadi) yang bisa digunakan untuk ‘menekankan’, untuk bisa ‘bercerita’, pertama Zone System-nya Ansel Adam, kedua ada komposisinya Steve McCurry, ketiga ada FGR (figure ground relationship) ala Henri Cartier-Bresson. Aliran pertama dan kedua akan sedikit komplek karena akan sedikit banyak akan melibatkan perangkat lunak untuk manipulasi gambar, lain kali kita bicarakan.

Figure Ground (Perception)

Usaha untuk mengenali bentuk dan latar belakangnya dalam sebuah pengamatan atau penglihatan, proses pencarian dan pengelompokan ini ada dalam ilmu psikologi dalam teori gestalt. Ada tiga tipe untuk figure ground ini dalam teori gestalt, yaitu;

Tiga tipe FGR

Pertama adalah FG Stable, atau jelas antara figur dan latar, untuk mudahnya tipe pertama ini latar kita sebut negative space dan figur/bentuk kita sebut positif space, sedikit bahasan ada disini.

Figure Ground Stable

Kedua, FG Reversible, dimana latar belakang dan fitur sama kuat.

Mana yang cenderung kita pilih untuk figur? Hijau atau Ungu

tangan dan bayangan

Terakhir ada FG Ambiguous, dimana terjadi sedikit kebingungan untuk menerapkan antara latar dan figur. Bahasa gaulnya gaje.

Ambigu

Lantas dimana figure ground relationship ala Henri Cartier-Bresson, beliau lebih cenderung berada dalam tipe yang pertama dalam teori gestalt, mengejawantahkan dengan sederhana tapi tegas selalu ada dalam setiap karya-karyanya.

Kenapa figure-ground penting? Karena kita hidup di dunia tiga dimensi, akan tetapi foto kita adalah terlahir dalam dua dimensi, ketika dimensi ketiga yang diwakili oleh z atau kedalaman hilang, maka yang terjadi adalah foto akan terlihat seperti lukisan yang kita coba buat waktu kecil dulu, datar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s